Cerita Ceriti Kehidupan

Macam-macam ada…

Archive for the ‘Me, My Dear & Marriage’


Sad, sad week…

I don’t know why, but this week everything seem to happen not to my advantage! Dah lama tak rasa tension, uneasy & angry! Should I be patient and accepting to all, should I do something to make him understand? should I run away from all this. Tambah pula this week the pain has started creeping up down my spine, my back and my thigh. Ya Allah, did i do something terribly wrong?

Selepas solat Subuh tadi, with so much anger in myself I prayed,  ’ Ya Allah, sesungguhnya aku terasa teraniaya, Kau balaslah dengan balasan yang setimpal dgn org yag menganiayaku, Kau tunjukkanlah kebenarannya, beri petunjuk dan hidayah kepada mereka Ya Allah, ampunkan daku Ya Allah’.

Then I continued to sit on the sejadah, tears streaming down my cheek thinking and finding way out of this empty marriage. Yes, my marriage! Berdosa ker bila itu yang datang dalam fikiran? Frankly speaking, I feel that this marriage is empty, tiada pengisian. 

Hubby dear! I am hoping and longing for a marriage where we do things together. Things other then eat and sleeping together. I did ask you to teach me or listen to my Quran reading, just once a week, I did ask you to give me tazkirah after our jemaah, I did ask you to bring me to any majlis ilmu or to masjid for prayer and kuliah, I did ask you lets exercise together, shopping for groceries together, bukan selalu, sekali sekala pun tak per…. Were those permintaan so hard for you?

I am still waiting for you to change for the better, I am not saying that I am a good wife, in all aspect,  but it seem to me that you took me for granted. You did and arranged things to your convenience and expect me to understand and accepting all your decisions…

I am so tired, bosan rasanya. Ya Allah bantulah hambamu…. 

Tika ini,  
langkah terasa payah,  
nafas terasa lelah,  
hati teramat gelisah,  
menghadapi ujian yang Maha Esa..
 
Kalbuku,  
yakinlah pada janji ar-Rahim,  
kau tak pernah sendiri,  
tidak mungkin jua terasa sunyi,  
mustahil jua tandus tanpa cinta, 
kerna kasih Nya sentiasa ada buatmu… 
 
Nuraniku,  
tabahlah kau menjamah getir ujian buatmu,  
teguhlah kau terus berdiri,  
kerna kau pasti mampu hadapinya,  
itu janji Tuhan yang Esa…
  
Penawar,  
biar perih terasa mengejar cinta Yang Esa,  
dari terleka mencari fatamorgana yang fana,  
berimanlah ini terbaik untukmu,  
segala tersurat sudah,  
kerana Dia Khalidmu,  
Maha mengetahui segala sesuatu,  
pasti ada sebabnya setiap kisah hidupmu….

To Masjid 2….

Alhamdulillah last nite we managed to go to Masjid Tabung Haji Kelana Jaya. This is a familiar masjid to me since I used to stay in Kelana Jaya before. We reached there around 8pm and there was a kuliyyah Maghrib. The speaker is a well known religous figure Ustaz Zawawi.

Points to note :

1) Make habit to help people regardless of religion.

Uztaz narated a few hadiths which narates about Khalifahs who like to help his people. One of them is Khalifah Umar Al Khatab who use to help a blind old women by sending food, drinks and medicine to her house every night. If the Khalifah can do such things to help others, who are we not to help our fellow muslims or others who needs help.

Helping people can soften our heart and abstain us from any calamity.

2) Let heart rules our head and not otherwise

‘Khusyuk’  in solat is when our hearts can rule our heads and hence if our hearts are clean they will send clean messages to our heads, but if our hearts are  dirty they will be otherwise.

 Heart remains the center of life and center of responsibility.  According to an authentic saying of Prophet Mohammad, “inside the human body there is a morsel of flesh which if healthy, the whole body is healthy and which if diseased, the whole body is diseased.”  Then he pointed to his heart and said “ this piece of flesh is this heart.”  Thus a sound heart, one which is pure and is clean from all idols, where God resides, gives life to the body. 

We must tame our evil self which otherwise would destroy the kingdom of God.  We must cultivate longing in search for the beloved.  We humans are wired for God and all we have to do is plug ourselves into the electrical outlets and turn the switch on by standing for prayer. 

We must recognize God’s presence within us and with us.  Our hearts will remain restless until they rest in God and as Quran says “ for sure it is in the remembrance of God that the heart finds rest” (13:28) and according to the saying of the Prophet, there is polish for every rust and the polish for the rust of the heart is the remembrance of God. 

Let us keep our hearts clean.   As Abdul Qadir Jilani, Sufi Master of Islam said “Your heart is a polished mirror.  Keep it clean by wiping out the dust which has gathered on it because it is destined to reflect the light of divine secrets. 

If only the lamp of divine secrets is kindled within your innerself then the rest will come.  Then you will see the sun of inner knowledge rising from the horizon of divine reason.”  But in order to attain pure spirituality, we must empty our hearts first to receive God and make it a worth while place for Him to live.

3) Our journey to religous kuliyyah is a mirror of our journey in the here-after..

If we feel difficult to make ourself to take a journey to go to any religious gathering, then we are expected to face difficulty to cross the path of Siratul Mustakim in the here-after. Nauzu billah…

In religous gathering Allah shower his Sakinah to the his servants in the gathering.  Abu Hurairah and Abu Sa`id Al-Khudri (May Allah be pleased with them) reported: The Messenger of Allah (PBUH) said, “When a group of people assemble for the remembrance of Allah, the angels surround them (with their wings), (Allah’s) mercy envelops them, Sakinah, or tranquillity descends upon them and Allah makes a mention of them before those who are near Him.”

Those were the points that I managed to absorbed from the kuliyyah. On our way back, I asked Hubby.. ‘Do you think that it is easy for you to attend any religous gathering nowdays?.. He shooked his head. ‘Do you know why?’.. No answer.. I said again : ‘I think is because our hearts are not clean..” He nodded his head and said, ‘ Yes..the heart has become rusted…’ I stopped right there…

Thank you Allah.

‘Ya Allah, Please forgive me and my husband and shower your blessing and hidayah upon us..’

Ameen….

Wahai Abang! Wahai Suami!

Bukankah lelaki yang bergelar abang sepatutnya melindungi dan menjaga kebajikan adik perempuannya?

Bukankan seorang lelaki yang bergelar suami sepatutnya melindungi dan menjaga  kebajikan isterinya?

Hati seorang adik perempuan terluka dengan sikap abang yang tidak mengambil kira. Tidak pernah mahu bertanya situasi yang dia tinggalkan untuk adiknya selesaikan…

Hati seorang isteri sungguh terguris dikala suami tak sudah-sudah berjanji tanpa mengotakan janji. Sudah berkali-kali perkara yang sama berulang. Hanya bertindak bila sudah terlewat, dan si isteri juga yang diminta untuk menyelesaikan. Tidak boleh dibawa berbincang, melenting bila dipersoalkan….. Wajarkah??

Ya Rabb…

Lewat malam yang selalu ku rentangkan
selaksa doa yang tak putus asa ku dendangkan
dengan perantara 99 nama-Mu yang lima kali bahkan lebih
terucap dari bibirku….
Rabb….
Berilah aku kesabaran yang lebih dari sekarang….
berilah aku qonaah, ridho, syukur akan nikmat
yang Kau pastikan untukku
Rabb…..
mungkin aku belum pantas Kau rengkuh
tapi Rabb…….
tak ada salahnya kan jika aku selalu mengharap
Rahman-Rahim-Mu………….

NOTA : Sajak dipetik dari salah satu site yang pernah saya kunjungi…..

Ayat-ayat Cinta Bercerita…

Abang,

Desiran pasir dipadang tandus itu, segersang pemikiran hati ini. Terkisah perkahwinan kita ini adalah diantara cinta yang rumit. Tapi, bila keyakinan datang dalam diri, kasih ini bukan sekedar cinta lagi. Malah pengorbanan cinta yang agung, diri ini pasrah pertaruhkan.

Wahai abang suamiku sayang,

Ampun dan maafkanlah bila diri ini tak sempurna. Cinta ini, tak mungkin dapat dicegah, hanya ayat-ayat cinta yang dapat bercerita tentang cinta isteri mu ini padamu.

Namun, bila bahagia mulai menyentuh perkahwinan kita, terasa seakan diri ini  bisa hidup lebih lama dengan mu… Namun mungkinkah harus ku tinggalkan cinta demi kebahagian yag hakiki?. 

Ke masjid…

Alhamdulillah, minggu ni Allah lorongkan kami ke masjid. Walaupun not intentionally, itu satu rahmat. Abang dear, dah lama kita tak ke masjid!! We should find a time to go more often…

On Tuesday, we stopped for Maghrib prayer at Masjid SS1. That was my first time there. Ruang wuduk dan tandas masjid ni remind me of Mekah.. Rindunya utk ke sana….Semuga Allah menjemput kita kesana…

Well, fortunately ada ceramah kat masjid tu, so we decided to solat maghrib and stayed for Isyak. Masjid SS1 ni besar dan dikelilingi oleh rumah teres, tetapi sayangnya jemaah tak berapa ramai.Jemaah perempuan pula kebanyakannya senior citizen. .Semuga Allah membuka hati penduduk disekitar utk mengimarahkan masjid yang besar dan cantik ni..InsyaAllah.

Hanya utk mengucapkan kata syukur, dan semuga Allah membuka pintu-pintu kebaikan utk kita lebih bertandang ke rumah Allah dan dibukakan jalan utk selalu berada dalam majlis-majlis ilmu bersama… Amin.. 

Syukur Alhamdulillah dan thanks Hubby dear…

Wahai Suami….

Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkan daku, yang masih mengizinkan urat2 nadi ku berdenyut, jantungku untuk berdegup, kakiku untuk berjalan, mata ku untuk melihat, telingaku untuk mendengar, tanganku untuk menulis serta menaip. Selawat dan salam buat junjungan besar Nabi Muhammad SAW serta sahabat2 dan keluarga2 baginda yang bersusah payah memperjuangkan Islam dengan begitu peritnya.

Entah mengapa jiwaku meronta. Aku kadang-kadang seorang isteri yang inginkan kebebasan dalam setiap apa yang ingin ku lakukan. Bukanlah kebebasan yang bertentangan dengan syariat agamaku. Tapi kebebasan untukku bersuara. Kebebasan untukku menjadi apa yang ingin orang lain impikan. Janganlah kerana diri ini yang lemah abang anggap daku tidak punya perasaan. Hatiku bisa terusik oleh kata-kata yang amat menyakitkan. Aku tertanya-tanya, mengapakah tiada lagi yang menjadikan isteri itu layak di hormati? Mengapakah tiada lagi yang menjadikan isteri itu sebagai permata di segenap ruang hati yang bergelar suami?

Bukan niatku sebagai iseri untuk di sanjung. Dan bukan juga niatku untuk mendapatkan sesuatu tempat yang tinggi yang aku juga tidak pasti apakah aku layak ataupun tidak. Cuma, hatiku meronta ingin di lepaskan dari bebanan yang mencengkam jiwa. Aku tidak meminta untuk mendapat tempat teratas mahupun di bawah abang. Tapi aku ingin berada di samping abang supaya abang bisa memimpin ku. Menjadikan ku seorang yang boleh memanfaatkan setiap sudut kenikmatan yang telah di anugerahi kepada isteri sepertiku.

Ya benar. Isteri sepertiku tidak lari dari sifat egoistik yang memuncak. Bukanlah kerana aku ingin di pimpin oleh syaitan untuk menguasai sifat itu. Bukanlah niat ku untuk membongkak atas tingginya martabatku yang telah di janjikan olehNya bilamana aku menjadi seorang isteri yang solehah. Tapi, aku ingin menjaga maruahku! Aku tidak ingin jika diriku mudah untuk dipijak, diperdaya, dan di aniaya oleh abang atau dia.

Aku tidak rela diriku di jatuhkan dengan pelbagai fitnah yang boleh menjadi kemurkaan-Nya kepadaku. Mengapakah abang tidak memahami hati ini? Mengapakah abang tidak bisa membantu diri ini? Apakah dengan kelemahan diri ini memudahkan abang untuk mempergunakanku? Bagaimanakah agaknya bila ibu abang, kakak abang atau adik perempuan di perlakukan oleh orang seperti abang??? Sanggupkah abang??

Ya benar. Aku lemah, malah memang telah di ciptakan bahawa aku seorang yang lemah tapi aku juga punya kekuatan yang luar biasa. Bilamana di bandingkan antara suami, lelaki yang bernama suami tidak dapat mengatasi kekuatanku ini. Iaitu SABAR. Hatiku yang serapuh kaca bisa di baik pulihkan oleh sifatku yang penyabar. Daku punya sifat yang sabar malah mudah memaafkan orang lain. Sabar itulah satu-satunya kekuatan yang menjadi penenang jiwaku. Biarpun daku tidak layak mendapat kebahagiaan di dunia ini, tapi aku yakin akan janjiNya, bahawa Dia sentiasa bersama dengan orang yang sabar..

Tidak ada sesiapa pun isteri di dunia ini yang tidak ingin diberi perhatian. Aku, seorang isteri tetap menginginkan perhatian. Janganlah abang terkejut bila aku katakan bahawa setiap isteri menginginkan dirinya diperlakukan seperti kanak-kanak. Ingin disayangi, ingin dibelai, dimanjai, didengar, diajar, dipimpin malah tidak harus di kasari. Sebagaimana kanak-kanak itu ibarat kain yang putih dan ibu bapa yang harus mencorakkannya. Begitulah juga dengan isteri sepertimana diibaratkan isteri ini adalah sebagai tulang rusuk yang bengkok. Maka suami lah yang bisa meluruskannya.

Itulah yang aku maksudkan. Bukanlah aku tidak mengizinkan abang untuk menegurku tapi tolong jangan berlaku kasar kepadaku kerana ia mungkin bisa menimbulkan luka dalam hati. Bila isteri sepertiku mendapat luka yang mendalam, ia tetap terpahat dan menimbulkan bekas yang mencengkam. Benar, diriku selalu di selubungi oleh sifat sensitif yang mendalam. Kadang-kadang juga emosional yang menggunung. Tapi dengan satu pujukan sahaja bisa mencairkan hati ku yang beku sepertimana ais di cairkan oleh air panas. Betapa lembutnya hati seorang yang bernama isteri..

Justeru aku merayu, bantulah isterimu ini. Entah mengapa hatiku semakin terusik. Semakin sensitif sejak akhir-akhir ini. Jiwaku ingin meronta. Aku tidak ada sesiapa melainkan abang. Abanglah pemimpin ku. Dan kepada abanglah aku bergantung. Bantulah diri ini. Pimpinlah aku ke arah keredhaan-Nya. Berikan sepenuh ketulusan dalam jiwa abang untuk membimbingku untuk kejayaan, tetapi bukan menggunakan kesempatan di sebalik kelemahanku. Sedarkan aku dari lena yang penuh dengan kelalaian. Jangan biarkan aku di gelar ‘rosak’ di sebabkan oleh kepercayaanku atas penipuanmu, oleh kasih sayangmu yang dusta tetapi tidak pernah menunjukkan aku sebagai isteri ke jalan yang benar.

Jadilah seperti junjungan besar Muhammad yang amat mencintai dan menghargai orang-orang sepertiku tanpa melemparkan dusta dan fitnah untuk menghancurkan maruahku.

Janganlah kalian mengharapkan wanita semulia Fatimah Az-Zahra, andai dirimu tidah sehebat Saidina Ali Karamullahuwajhah…

NOTA :

Petikan dari sebuah blog yang telah diubahsuai..walaupun ia satu  petikan, tetap sedikit sebanyak menggambar isi hatiku sebagai seorang isteri….

Bila Hati ini Merindu….

Still in Langkawi, dah dekat seminggu meninggalkan rumah dan hubby….

From Langkawi with Love…

Bila hati ini merindu, tertanya-tanya adakah yang dirindui turut sama merindu ? Merindui sesama manusia tiada jawapan yang pasti.. Tapi jika merindui Yang Maha Kuasa, yang pasti Dia juga merindui hambanya setiap waktu…     

bilahatimerindu4